Selasa, 16 November 2010

- Demi Masa -

Jauh sudah kurasakan hampa
berdiri tanpa kesadaran hati
berlari hanya dengan mengandalkan emosi belaka
semua alasan hanya bertujuan untuk mencari jati diri
duhai suara hati....kelam telah kutelan habis di masa lalu
dengan perlahan kulakukan perlawanan hanya untuk mencari keseimbangan.

rasa seperti sedang menguntai cerita
mengukir kebahagiaan yang terimajinasikan indah
tapi tak sedikit goresan kegelisahan pun tampak jelas dia artikan
sulit memang kujalani semua ini.
tanpa ada pelita yang ikut tersenyum melihat perjuanganku
merunduk,merangkak,lalu sesekali terjatuh.

DERITA...
andaikan dulu aku tau kau itu siapa.
aku takan pernah ingin menolakmu untuk berteman mengisi hidupku.
banyak orang di luar sana yang ku tau enggan bersentuhan dengan mu,
atau mungkin juga mereka telah bosan dengan keadaan mu yang menyebalkan itu??
tapi tidak dengan ku saat ini,aku akan selalu menerimamu sebagai sahabat karibku.
karena kuyakin engkau adalah sesuatu yang mampu menyadarkanku,
bahwa tuhan telah menyediakan bahagia setelah mu untuk hidupku.

ketak ketik

Bersua tapi tak terdengar,memandang tapi tak terlihat
sebuah eksistensi dari kepandaian sang durjana
mendendangkan nyanyian malam dengan kemewahan duniawi
apakah mereka mampu kembali setelah tebenam...

Rasa...
ku ingin sempurnakan engkau seperti setetes embun
berirama tenang berlafalkan keharmonisan pagi
melayang jauh d ufuk kejayaan.
takkan ku biarkan durjana itu menerror kearifan ku.
menipu seprti tak tertipu..

ku takan beranjak pergi,sebelum ku lukiskan kau d atas awan yg gemilang..

"terhadapmu suasana"

Satu hari yang kulalui__
ketika lelah kujadikan berita tabu.

Senyum...

Tawa......

Semua menjadi sebuah suasana,seakan tak pernah surut bak cerita sebuah legenda.

Segenggam rasa untukmu suasana__

ketika itu...


ketika waktu mendesak pikiran untuk bangun
ketika perasaan hati telah mengeluh
ketika rongga kehidupan terbuka lebar
ketika aku harus bangun dari hantaman realitas

ketiika keyakinan mulai mendahului mimpi
ketika semua orang meneriakan pujian
ketika sebuah apresiasi sebuah harapan telah berdiri
ketika goncangan-goncangan sebuah masa lalu menuntutku

ketika hati ini berfikir untuk terus berjalan
ketika sebuah harapan dari kemewahan menjadi sebuah ritual
ketika kebiasaan memberikan kembali manfaatnya
ketika langkah menawarkan sandaran kehidupan

ketika itu rindu dan haru mulai menghasutku untuk melakukan melawan.

Bantu aku untuk menikmati sedikit demi sedikit ketika sebuah proses menjelma untuk menelanku.